DILEMATIS MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)
Oleh: Siswanto
Manajemen berbasis sekolah merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah dan bukan dihadapkan pada perubahan yang tidak menentu, mengakibatkan “One to one relationship”, karena apa yang terjadi dan diprogram tidak sepadan.
Konsep dasar manajemen berbasis sekolah (MBS), pada hakikatnya merupakan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kepentingan kelompok (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Karakteristik MBS dengan tujuan pendidikan nasional.Tujuan pendidikan nasional yang terkenal dengan”Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” dan sebagai alat pemersatu bangsa, sepertinya sudah mulai perlu mendapatkan pengkajiann lembali dengan adanya MBS. MBS menunjukkan adanya sedikit perubahan yaitu dari pola sentralisasi pendidikan menjadi desentralisasi pendidikan, subordinasi sistem menjadi pola otonomi dan pengambilan keputusan terpusat sekarang menjadi partisipatif, serta banyak lagi perubahan, tetapi masih dalam kerangka nasional. Hal ini masih bisa diterima sebagai alat pemersatu bangsa. Sedangkan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, yang perlu kita kaji adalah bahwa kecerdasan pada setiap manusia itu heterogen, jika kecerdasan itu berorientasi pada mencerdaskan kehidupan bangsa, akan timbul penafsiran bahwa keluaran(output) dari sebuah proses pendidikan setiap jenjang pendidikan harus memiliki kecerdasan yang sama. Mungkin ini yang menjadikan UN sebagai penentu keputusan kelulusan, tanpa memandang keragaman dari semua aspek pendidikan, termasuk MBS yang sudah diprogramkan. Padahal, dari keragaman kecedasan setiap manusia tidak mungkin sama, apalagi dipaksakan, sehingga perlu dikaji bahwah tidak mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi memberdayakan kecerdaskan bangsa. Sebagai konsekwensi, tidak memaksakan kecerdasan tetapi melatih dan mengarahkan kecerdasan tersebut, sehingga UN tidak lagi menjadi penentu suatu kelulusan jenjang pendidikan tertentu, tetapi sebagai tolok ukur keberhasilan dalam melatih dan mengarahkan kecerdasan peserta didik.
Relevansi dan implementasi MBS, jika hal ini benar-benar dilaksanakan, maka sekolah akan menyediakan berbagai layanan pendidikan yang komprehensif dan lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah berada. Ibarat siswa adalah konsumen, maka diperlukan upaya untuk memberikan pelayanan terbaik agar mereka bisa belajar secara optimal. Customer Satisfaktion/kepuasan pelanggan adalah paling utama dalam MBS, bahkan seluruh organisasi sekolah, proses belajar mengajar dan sumber daya manusia (SDM)dapat lebih dikembangkan tanpa dibayangi UN dalam perjalanan MBS itu sendiri. Organisasi sekolah mampu menentukan tujuan sekolah dengan menyusun rencana kebijakan, mengolah kegiatan oprasional sekolah dengan tetap mampu menjamin komunikasi, partisipasi dan bertanggungjawab kepada masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah tersebut berada, baik secara internal maupun eksternal. Perlu mendapat perhatiaan adalah “link and match”, yaitu keterkaitan dan kesesuaian/kesepadanan antara yang diberikan di sekolah dengan apa yang ada di lapangan. Poses belajar mengajar, sekolah akan menyediakan program pengembangan yang diperlukan siswa dengan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat secara efektif, tanpa dibanyangi UN. Metode dalam pengajaranpun dengan sendirinya akan tercipta sesuai kebutuahan, mungkin tidak harus meniru metode dari luar negri karena yang belajar dan tempat belajarnya asli Indonesia (ingat slogan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani). Sumber daya manusia juga hal yang tak kalah penting, sebab dengan memberdayakan SDM, kebutuhan siswa dapat dipenuhi dilayani dan bukan dipaksa menerima materi tanpa memperhatikan keragaman keadaan siswa khususnya dan stakeholder pada umumnya. Hal ini sangat mungkin berkembang cara-cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi wilayah asli Indonesia dan konsep kebutuhan masyarakat Indonesia.
Manfaat MBS bagi pendidikan di Indonesia, sekaligus merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan tersebut memberikan manfaat bagi seluruh penyelenggara pendidikan untuk meningkatkan, mendorong dan mendayagunakan sumberdaya yang ada seefisien mungkin dalam mencapai tujuan pendidikan. Otonomi manajemen diharapkan mampu meningkatkan kinerja para tenaga kependidikan, meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. MBS setidaknya dapat dijalankan dengan konsep “Self Determination Theory”,yaitu jika seseorang memiliki kekuasaan dalam pengambilan sebuah keputusan maka semakin besar pula tanggungjawab terhadap pelaksanaan keputusan tersebut. MBS akan lebih bermanfaat jika menjalankan UU No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 52 aya (1), bahwa”Pengelolaan satuan pendidikan anak usisa dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standart pelayanaan minimal denan prinsip mamajemen berbasis sekolah (MBS) secara kaffah.
Hi, interesting post. I have been thinking about this topic,so thanks for writing. I’ll probably be subscribing to your posts. Keep up great writing
By: I Lost Thirty Póunds in Only a Month on May 7, 2009
at 12:29 am
apapaun sistem yang dipakai kalau kita menjalankannya dengan baik, yakni :
1. ihklas
2. sepenuh hati/bersungguh-sungguh
3. yakin dengan yang dilakukannya dan bertanggungjawab
4. melakukan dengan cara yang benar sesuai aturan
5. mensyukuri apapun hasilnya
Fa insya Allah akan sukses, amin.
By: titis roul fitriyah on May 31, 2009
at 2:17 am
only one word.great!!!!!!
By: masheri on June 2, 2009
at 4:28 am
only one word. great!!!!!
By: masheri on June 2, 2009
at 4:41 am