Semakin tinggi kebutuhan dan tuntutan pendidikan di Indonesia, semakin kompleks pula permasalahan yang timbul. Ketika keberhasilan diraih oleh seorang siswa, maka guru ikut terlibat , tapi ketika siswa megalami kegagalan maka terjadi saling melempar tanggungjawab bahkan saling mencari kambing hitam penyebab kegagalan yang dialami oleh siswa. Guru tidak lagi berjiwa besar, menganggap siswalah yang tidak mampu, orang tua kurang perhatian terhadap anak, bahkan lingkungan ikut salahkan.
Slogan “ING NGARSO SUNG TULODHO ING MADYO MANGUN KARSO TUTWURI HANDAYANI” hendaknya bisa diterapkan oleh semua pihak baik itu guru, orang tua /wali dan anak didik semua ikut bertanggung jawab, sehingga tidak terjadi saling menyalahkan diantara stakeholder.
Sekolah/Madrsah yang mendapat amanah orang tua, setidaknya mampu menjadi fasilitator yang bijak dan menyediakan wadah bagi kreatifitas siswa dan guru agar mampu memacu semangat belajar siswa. Siswa hendaknya dipandang sebagai obyek dalam problem possing education, yaitu melibatkan siswa dalam problematisasi yang dihadapinya secara terus-menerus.
Pada praktek di lapangan guru sering bertindak sebagai eksekutor,hal ini terbukti banyak guru memvonis jawaban yang diberikan siswa dengan kata “salah” dan ironisnya masih ada guru yang terbiasa dengan cacian yang mendiskriditkan siswa, misalnya kata “Bodoh” ataupun “Nakal”. Gelar tersebut secara tidak langsung membunuh kreatifitas berfikir anak sehingga anak menjadi ragu untuk melontarkan jawaban jika guru bertanya, bahkan lebih parah jika anak tersebut sudah kehilangan semangat karena terlanjur bergelar bodoh/nakal, padahal anak memiliki konsep pengetahuan yang harus dirangsang dan dikembangkan. Seharusya guru tetap memberikan motifasi agar siswa mampu mereviuw pengalaman dengan memberikan pancingan/rangsangan dan arahan (berupa reward) agar siswa mampu menjawab pertanyaan minimal mendekati kebenaran.
Terlepas dari panisme dan reward yang diberikan oleh guru saat melakukan PBM, guru sangat berperan dalam keberhasilan atau ketidak berhasilan siswa selama belajar di sekolah/madrasah, maka:
1. Guru harus sadar betul ketika melaksanakan PBM, siswa yang dihadapi sangat beragam (heterogen) secara psikis maupun secara mental.
2. Guru tetep melihat siswa dengan segala permasalahannya (Problem Possing Education),guru melihat dari sudut pandang yang luas/positive tingking.
3. Guru harus bisa mengintegrasikan segala eksistensi permasalahan dari siswa, jangan sampai niat baik guru disalah tafsirkan dengan istilah guru sentimen, pilikasih, mengajarnya tidak enak, guru killer dan lain sebagainya, yang bisa memicu timbulnya miskomunikasi.
4. Guru harus bisa bercermin pada:
1) Sudakah saya melaksanakan PBM dengan baik
2) PBM saya laksanakan tidak hanya sekedar mentransfer ilmu secara perbalisme, melainkan learn to learn/belajar untuk belajar.
3) Sudakah saya menciptakan hubungan dalogis dengan siswa secara horizontal sebagai subyek yang sama dengan mengamati obyek yang sama.
dengan demikian guru tidak lagi sebagai eksekutor bagi mereka yang tidak berhasil/tidak mampu dan sebagai malaikat bagi mereka yang secara kebetulan searah dalam pemahaman sehingga siswa memperoleh keberhasilan, tetapi guru lebih cocok sebagai pemimpin kelompok belajar di dalam satu rombongan belajar. Guru adalah pemimpin yang ikut serta merasakan suka duka dalam rombongan belajar dan berbagi pengetahuan ataupun pengalaman belajar yang kebetulan guru memperoleh lebih dahulu dari siswa, atau mungkin sebaliknya guru bisa mengambil manfaat dari ketidaktahuannya dengan menyiasati menggali jawaban dari pertanyaan. Guru bisa menempatkan dirinya di depan bagi siwa-siswinya yang benar-benar siap dan mampu mengikuti pelajaran, guru juga bisa menempati posisi ditengah dalam rombongan belajar dengan memberikan semangat pada siwa yang kemampuan intelektualnya sedang-sedang saja agar lebih kreatif dan guru bisa menempati posisi dibelakang yang siap memberikan dorongan bahkan mendongkrak rasa percaya diri pada siswa yang kurang agar mampu mengejar ketertinggalannya selama dalam rombongan belajar.
Guru memang bukanlah malaikat yang tidak pernah salah, tetapi guru dituntut dalam keberhasilan siswa, padahal yang berperan banyak sebenarnya orang tua dengan lingkungaannya.”Lalu bagaimana seharusnya lingkungan yang harus dikondisikan oleh orang tua?” dan “Bagaimana seharusnya yang dilakukan orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya?” inilah yang selama ini mungkin jarang diperhatikan bahkan mungkin tidak pernah diperhatikan oleh sekolah, khususnya oleh guru.
Ada realitas yang mungkin perlu mendapatkan perhatian, ketika seorang siswa pulang dari sekolah/madrasah siswa tersebut tidak langsung pulang ke rumah, makan dan istirahat, melainkan harus menjemput adiknya yang masih balita ditempat penitipan anak yang biasa orang tuanya menitipkan, karena mereka (ibu dan ayahnya) bekerja sebagai buruh pabrik ataupun sebagai kuli bangunan. Waktu di rumah setelah pulang sekolah dipakai untuk “momong” dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang kebetulan selalu dibagikan kepada anaknya karena orang tua harus mengejar jam kerja, itupun setelah atau sambil “momong” sampai orang tuanya datang. Ketika orang tuanya datang, kesempatan untuk belajar atau sekedar mengerjakan tugas yang diberikan guru tak jua datang, sebab kondisi rumah kost berukuran 3×4 yang penuh dengan tempat tidur dan almari pakaian serta rak buku yang di atasnya terdapat tv/radio/tape itu sudah penuh dengan suara televisi/radio/tape recorder tersebut sebagai pelepas lelah kedua orang tuanya setelah sehari bekerja.”Lalu adilkah jika guru membebani siswa tersebut dengan PR?”,jika dalam satu hari siswa mendapatkan tugas pekerjaan rumah lebih dari satu bidang studi. Guru memang senantiasa memberikan nasihat agar siswa tersebut untuk bangun pagi agar bisa mengatasi persoalan tersebut. Pertanyaan yang harus dijawab; “Berapa jamkah anak harus istirahat tidur agar anak bisa bengikuti PBM esok hari?”,”Apakah lingkungannya bisa mendukung?”,dan yang terakhir “Bagaimana tindakan guru sebagai malaikat penolong untuk keberhasilan siswa tersebut?”.
Guru yang bijaksana akan bertindak sebagi malaikat penolong sejati ataukah malaikat yang menjerumuskan siswa (Eksekutor) dengan tetap memberi gelar “Bodoh” atau”Nakal”,bahkan yang lebih parah jika guru menutup mata terhadap ketuntasan belajar siswa dengan memberi nilai. Guru seharusnya bisa melakukan tindakan bijaksana dengan memberikan memberikan pendidikan tidak hanya pada siswa tapi juga pendidikan pada orang tua. Proses pendidikan bagi orang tua bisa dilakukan tergantung kebijaksanaan sekolah, sekolah bisa mengundang orang tua (Tidak hanya pada pembagian raport) dengan memberikan penyuluhan tentang trik-trik yang seharusnya dilakukan dalam mendidik anak di rumah, karena pendidikan tidak harus dalam bentuk ceramah,nasihat atau diskusi, tetapi contoh, kesempatan dan pengarahan serta perhatian terhadap kebutuhan anak. Proses lain yang dilakukan oleh guru adalah melaksanakan home visit sebagai bentuk perhatian guru mewakili skolah/madrasah sekaligus melaksanakan silahturrahmi dengan wali murid dan tak kalah pentingnya, guru harus bisa meminit waktu mengajar agar siswa benar-benar tuntas (learn to learn) dalam memenuhi pengalaman belajarnya.
Tindakan tindakan guru dalam melaksanan pendidikan yang tidak hanya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan tetapi tanggungjawab lahir batin untuk mengamalkan ilmu pengetahuhan baik langsung maupun tidak langsung dan memandang obyek dan subyek pendidikan dari segala sudut pandang secara bijaksana, baik siswa, diri sendiri dan orang tua yang sekaligus lingkungan adalah tindakan malaikat penolong generasi penerus bangsa.
Surabaya, 15 Januari 2008
Penulis
Hadi siswanto, S.Pd
menurut saya dengan tema guru EKSEKUTOR atau MALAIKAT PENYELAMAT sangat baik dan bagus karena, tema tersebut dapat meMOTIVASI anak didik yg telah di ajarkan.
By: aripradana on October 30, 2008
at 5:23 am
me
By: dwi yuliana on November 16, 2008
at 3:34 am
sama saja bisa eksekutor atau malaikat penyelamat
By: dwi yuliana on November 16, 2008
at 3:50 am
Guru merupakan JEMBATAN EMAS bagi siswa, karena guru dapat mengarahkan, membimbing, memotivasi, melatih, dan membari contoh yang baik,serta mendidik bukan mengajar siswa, karena jika mengajar hanya menyampaikan materi saja tanpa ada pesan moral yang di sampaikan pada siswa. mengenai GURU EKSEKUTOR atau MALAIKAT PENYELAMAT sangat bagus. karena guru dapat mengeksekusi suatu masalah yang di alami oleh siswa dengan cara yang lebih santun dan bermoral tetapi tidak bermaksud mematikan kreatifitas siswa dalam belajar. serta sebaiknya tidak mengunakan kata kata fulgar seperti “BODOH” tetapi menggunakan kata kata “MUTIARA ” yang lebih berkesan dan berkenan dihati siswa, sehingga dapat memotivasi siswa dengan kata lain guru dapat bersamaan bertindak sebagai eksekutor dan malaikat penyelamat. sehingga siswa dapat melewati JEMBATAN EMAS untuk meraih apa yang di cita-citakan dengan akhir yang berkesan dan tak terlupakan.
By: ASPURI,S.Pd on May 21, 2009
at 1:15 pm
banyak hal yang menyebabkan guru berprilaku sebagai eksekutor maupun malaikat penyelamat, antara lain :
pertama : secara psikologis dia pernah mengalami perlakuan yang sama ketika menjadi siswa dan dia tidak mampu menghilangkan semua penggalaman tersebut walau dia tahu perannya sekarang seorang pendidik yang harus tau apa yang terbaik dan belajar dari pengalaman semasa di ajar. ini model pengajar/pendidik pasif/egois/traumatis.
kedua : lingkungan lembaga pendidikan yang terbiasa dalam mengajar maupun managemen sekolah selalu kaku/suka memvonis bawahan berimbas pada saat guru mengajar. adakan seminar secara berkala dengan mendatangkan ahli yang bisa membuat guru maupun managemen sekolah jadi lebih arif
guru adalah manusia BIASA, tapi karena biasa jadi harus belajar untuk bisa menjadi LUAR BIASA. tekankan pada PROSES untuk menjadi luar biasa BUKAN PADA TUJUAN AKHIRNYA.
Tujuan akhir hanya imbas dari proses yang telah kita lakukan, jika prosesnya baik insya Allah hasilnya baik, amin.
By: titis roul fitriyah on May 31, 2009
at 2:08 am
Seorang guru harus berjiwa patriot untuk mencetak generasi yang cerdas.
seorang guru dalah figur utama di depan siswa baik dari segi akhlaq atau IQ mengapa?karena dengan itu semua anak akan bisa mengambil yang bermanfaat bagi dia dan seorang guru harus mengerti keadaan siswa pada st belajar.dan jangan sekali kali seorang guru menjatuhkan mental anak.kita selalu menyanjung si anak dan tidak boleh pilih kasih.
By: khoirul anam on June 1, 2009
at 8:23 am
Menurut saya, Guru bisa saja bertindak sebagai eksekutor,tergantung situasi selain itu guru harus adil dalam menghadapi murid ia harus memperhatikan perbedaan individuyang mencakup kebutuhan, minat, watak,sikap serta lingkungan. Guru juga bisa bertindak sebagai malaikat penyelamat DALAM HAL penyelesaian masalah baik menyangkut PROSES BELAJAR dan masalah pribadi sisiwa baik di rumah dan pergaulan dalam lingkungan sosial.
By: Aspuri.S.Pd on June 2, 2009
at 6:12 am
kalo bisa jadi malaikat penyelamat kenapa jadi yang lain.betul !!!!!
By: masheri on June 3, 2009
at 8:26 am
guru sebagai eksekutor tergantung situasi dan kondisi kelas jika diperlukan demi kebaikan siswa menurut saya lebih baik kita lakukan. dan akan lebih baik pula jika mengunakan motivasi-motivasi yang dapat membangun kreativitas-kreativitas siswa yang disebutkan diatas sebagai malaikat penyelamat.
By: ASPURI,S.Pd on June 6, 2009
at 2:25 am