Posted by: mtsbadrussalam | June 24, 2009

DAFTAR CALON PEGAWAI MTs. BADRUSSALAM
YANG MASUK NOMINASI
TAHUN PELAJARAN 2009 – 2010
KRITERIA PENILAIAN TES AKADEMIK TOTAL NILAI TES HASIL
NO. NAMA CAPEG A L A M A T TEMPAT & TGL LAHIR BIDANG STUDI INTERVIUW TES AGAMA TOTAL NILAI
TAJWID MAKH. HURUF PENG. AGAMA TES AGAMA
1 Masheri Tlogo Bedah RT 4 RW 02 Menganti, Gresik Gresik, 5 Juli 1981 Pend. Bhs Inggris Tgl, 19 Mei 2009 80 80 80 240 80 320 80
2 Titis Roul F Karang Wedoro, Turi, Lamongan Lamongan, 17 Januari 1987 Pend. Ekonomi Tgl, 19 Mei 2009 80 75 75 230 50 280 70
3 Khoirul Anam Sidosermo Gg. Puskesmas 1A Surabaya Ponorogo, 9 Agustus 1976 Pend. Bhs. Arab Tgl, 20 Mei 2009 80 80 80 240 80 320 80
4 Ni’matul Hasanah Driyorejo, Gresik Gresik, 14 April 1982 Pend. PAI/K1 Tgl, 20 Mei 2009 70 70 80 220 40 260 65
5 Darwati Ketitang Gg Masjid no. 5 Surabaya Magetan,29 Mei 1987 Pend. Matematika Tgl, 20 Mei 2009 65 65 75 205 60 265 66.25
Harap Hadir hari Senin, 29 Juni 2009 Surabaya, 20 M e i 2009
Pukul : 08.00 – selesai Kepala Madrasah,
Hadi Siswanto, S.Pd.

Read More…

Posted by: mtsbadrussalam | April 15, 2009

DILEMATIS MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

Oleh:  Siswanto


Manajemen berbasis sekolah merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah dan bukan dihadapkan pada perubahan yang tidak menentu, mengakibatkan “One to one relationship”, karena apa yang terjadi dan diprogram tidak sepadan.

Konsep dasar manajemen berbasis sekolah (MBS), pada hakikatnya merupakan penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kepentingan kelompok (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Karakteristik MBS dengan tujuan pendidikan nasional.Tujuan pendidikan nasional yang terkenal dengan”Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” dan sebagai alat pemersatu bangsa, sepertinya sudah mulai perlu mendapatkan pengkajiann lembali dengan adanya MBS. MBS menunjukkan adanya sedikit perubahan yaitu dari pola sentralisasi pendidikan menjadi desentralisasi pendidikan, subordinasi sistem menjadi pola otonomi dan pengambilan keputusan terpusat sekarang menjadi partisipatif, serta banyak lagi perubahan, tetapi masih dalam kerangka nasional. Hal ini masih bisa diterima sebagai alat pemersatu bangsa. Sedangkan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, yang perlu kita kaji adalah bahwa kecerdasan pada setiap manusia itu heterogen, jika kecerdasan itu berorientasi pada mencerdaskan kehidupan bangsa, akan timbul penafsiran bahwa keluaran(output) dari sebuah proses pendidikan setiap jenjang pendidikan harus memiliki kecerdasan yang sama. Mungkin ini yang menjadikan UN sebagai penentu keputusan kelulusan, tanpa memandang keragaman dari semua aspek pendidikan, termasuk MBS yang sudah diprogramkan. Padahal, dari keragaman kecedasan setiap manusia tidak mungkin sama, apalagi dipaksakan, sehingga perlu dikaji bahwah tidak mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi memberdayakan kecerdaskan bangsa. Sebagai konsekwensi, tidak memaksakan kecerdasan tetapi melatih dan mengarahkan kecerdasan tersebut, sehingga UN tidak lagi menjadi penentu suatu kelulusan jenjang pendidikan tertentu, tetapi sebagai tolok ukur keberhasilan dalam melatih dan mengarahkan kecerdasan peserta didik.

Relevansi dan implementasi MBS, jika hal ini benar-benar dilaksanakan, maka sekolah akan menyediakan berbagai layanan pendidikan yang komprehensif dan lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah berada. Ibarat siswa adalah konsumen, maka diperlukan upaya untuk memberikan pelayanan terbaik agar mereka bisa belajar secara optimal. Customer Satisfaktion/kepuasan pelanggan adalah paling utama dalam MBS, bahkan seluruh organisasi sekolah, proses belajar mengajar dan sumber daya manusia (SDM)dapat lebih dikembangkan tanpa dibayangi UN dalam perjalanan MBS itu sendiri. Organisasi sekolah mampu menentukan tujuan sekolah dengan menyusun rencana kebijakan, mengolah kegiatan oprasional sekolah dengan tetap mampu menjamin komunikasi, partisipasi dan bertanggungjawab kepada masyarakat sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah tersebut berada, baik secara internal maupun eksternal. Perlu mendapat perhatiaan adalah “link and match”, yaitu keterkaitan dan kesesuaian/kesepadanan antara yang diberikan di sekolah dengan apa yang ada di lapangan. Poses belajar mengajar, sekolah akan menyediakan program pengembangan yang diperlukan siswa dengan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan masyarakat secara efektif, tanpa dibanyangi UN. Metode dalam pengajaranpun dengan sendirinya akan tercipta sesuai kebutuahan, mungkin tidak harus meniru metode dari luar negri karena yang belajar dan tempat belajarnya asli Indonesia (ingat slogan ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani). Sumber daya manusia juga hal yang tak kalah penting, sebab dengan memberdayakan SDM, kebutuhan siswa dapat dipenuhi dilayani dan bukan dipaksa menerima materi tanpa memperhatikan keragaman keadaan siswa khususnya dan stakeholder pada umumnya. Hal ini sangat mungkin berkembang cara-cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi wilayah asli Indonesia dan konsep kebutuhan masyarakat Indonesia.

Manfaat MBS bagi pendidikan di Indonesia, sekaligus merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan tersebut memberikan manfaat bagi seluruh penyelenggara pendidikan untuk meningkatkan, mendorong dan mendayagunakan sumberdaya yang ada seefisien mungkin dalam mencapai tujuan pendidikan. Otonomi manajemen diharapkan mampu meningkatkan kinerja para tenaga kependidikan, meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. MBS setidaknya dapat dijalankan dengan konsep “Self Determination Theory”,yaitu jika seseorang memiliki kekuasaan dalam pengambilan sebuah keputusan maka semakin besar pula tanggungjawab terhadap pelaksanaan keputusan tersebut. MBS akan lebih bermanfaat jika menjalankan UU No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 52 aya (1), bahwa”Pengelolaan satuan pendidikan anak usisa dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standart pelayanaan minimal denan prinsip mamajemen berbasis sekolah (MBS) secara kaffah.

Posted by: mtsbadrussalam | September 11, 2008

PENGALAMAN MENGAJAR

Suatu ketika saya menerangkan tentang Bab Pertumbuhan dan Perkembangan pada sub pokok bahasan pertumbuhan dan kerkembangan pada manusia, suasana cukup hidup karena ternyata siswa-siswi banyak cukup banyak mengajukan pertanyaan yang menyebabkan saya agak kerepotan juga menjelaskannya dengan bahasa yang pas, maklum walaupun latar belakang saya MIPA namun saya berasal dari jurusan yang berbeda yaitu Kimia bukan Biologi.

Walaupun persiapan mengajar sudah saya siapkan sedemikian rupa tetap masih saja kurang memadai, sehingga pada pertemuan selanjutnya saya putarkan film tentang proses perkembangan manusia mulai dari bertemunya sperma dan sel telur sampai dengan kelahirannya dan tumbuh menjadi manusia dewasa. Dan yang lebih menarik lagi pada sajian film tersebut ternyata disitir juga ayat-ayat Al Qur’an yang relevan dengan keadaan manusia pada tahap-tahap pertumbuhannya.

Diakhir pelajaran pertemuan yang kesekian itu memang masih banyak pertanyaan yang bermunculan namun semua sudah dapat terjawab dengan diputarnya film tadi. Memang gambar lebih banyak menjelaskan lebih dari sejuta kata.

Dwi Handayanto, S.Pd Pengajar IPA

Posted by: mtsbadrussalam | September 11, 2008

GURU,”EKSEKUTOR” ATAUKAH “MALAIKAT” PENYELAMAT

Semakin tinggi kebutuhan dan tuntutan pendidikan di Indonesia, semakin kompleks pula permasalahan yang timbul. Ketika keberhasilan diraih oleh seorang siswa, maka guru ikut terlibat , tapi ketika siswa megalami kegagalan maka terjadi saling melempar tanggungjawab bahkan saling mencari kambing hitam penyebab kegagalan yang dialami oleh siswa. Guru tidak lagi berjiwa besar, menganggap siswalah yang tidak mampu, orang tua kurang perhatian terhadap anak, bahkan lingkungan ikut salahkan.

Slogan “ING NGARSO SUNG TULODHO ING MADYO MANGUN KARSO TUTWURI HANDAYANI” hendaknya bisa diterapkan oleh semua pihak baik itu guru, orang tua /wali dan anak didik semua ikut bertanggung jawab, sehingga tidak terjadi saling menyalahkan diantara stakeholder.

Sekolah/Madrsah yang mendapat amanah orang tua, setidaknya mampu menjadi fasilitator yang bijak dan menyediakan wadah bagi kreatifitas siswa dan guru agar mampu memacu semangat belajar siswa. Siswa hendaknya dipandang sebagai obyek dalam problem possing education, yaitu melibatkan siswa dalam problematisasi yang dihadapinya secara terus-menerus.

Pada praktek di lapangan guru sering bertindak sebagai eksekutor,hal ini terbukti banyak guru memvonis jawaban yang diberikan siswa dengan kata “salah” dan ironisnya masih ada guru yang terbiasa dengan cacian yang mendiskriditkan siswa, misalnya kata “Bodoh” ataupun “Nakal”. Gelar tersebut secara tidak langsung membunuh kreatifitas berfikir anak sehingga anak menjadi ragu untuk melontarkan jawaban jika guru bertanya, bahkan lebih parah jika anak tersebut sudah kehilangan semangat karena terlanjur bergelar bodoh/nakal, padahal anak memiliki konsep pengetahuan yang harus dirangsang dan dikembangkan. Seharusya guru tetap memberikan motifasi agar siswa mampu mereviuw pengalaman dengan memberikan pancingan/rangsangan dan arahan (berupa reward) agar siswa mampu menjawab pertanyaan minimal mendekati kebenaran.

Terlepas dari panisme dan reward yang diberikan oleh guru saat melakukan PBM, guru sangat berperan dalam keberhasilan atau ketidak berhasilan siswa selama belajar di sekolah/madrasah, maka:

1. Guru harus sadar betul ketika melaksanakan PBM, siswa yang dihadapi sangat beragam (heterogen) secara psikis maupun secara mental.

2. Guru tetep melihat siswa dengan segala permasalahannya (Problem Possing Education),guru melihat dari sudut pandang yang luas/positive tingking.

3. Guru harus bisa mengintegrasikan segala eksistensi permasalahan dari siswa, jangan sampai niat baik guru disalah tafsirkan dengan istilah guru sentimen, pilikasih, mengajarnya tidak enak, guru killer dan lain sebagainya, yang bisa memicu timbulnya miskomunikasi.

4. Guru harus bisa bercermin pada:

1) Sudakah saya melaksanakan PBM dengan baik

2) PBM saya laksanakan tidak hanya sekedar mentransfer ilmu secara perbalisme, melainkan learn to learn/belajar untuk belajar.

3) Sudakah saya menciptakan hubungan dalogis dengan siswa secara horizontal sebagai subyek yang sama dengan mengamati obyek yang sama.

dengan demikian guru tidak lagi sebagai eksekutor bagi mereka yang tidak berhasil/tidak mampu dan sebagai malaikat bagi mereka yang secara kebetulan searah dalam pemahaman sehingga siswa memperoleh keberhasilan, tetapi guru lebih cocok sebagai pemimpin kelompok belajar di dalam satu rombongan belajar. Guru adalah pemimpin yang ikut serta merasakan suka duka dalam rombongan belajar dan berbagi pengetahuan ataupun pengalaman belajar yang kebetulan guru memperoleh lebih dahulu dari siswa, atau mungkin sebaliknya guru bisa mengambil manfaat dari ketidaktahuannya dengan menyiasati menggali jawaban dari pertanyaan. Guru bisa menempatkan dirinya di depan bagi siwa-siswinya yang benar-benar siap dan mampu mengikuti pelajaran, guru juga bisa menempati posisi ditengah dalam rombongan belajar dengan memberikan semangat pada siwa yang kemampuan intelektualnya sedang-sedang saja agar lebih kreatif dan guru bisa menempati posisi dibelakang yang siap memberikan dorongan bahkan mendongkrak rasa percaya diri pada siswa yang kurang agar mampu mengejar ketertinggalannya selama dalam rombongan belajar.

Guru memang bukanlah malaikat yang tidak pernah salah, tetapi guru dituntut dalam keberhasilan siswa, padahal yang berperan banyak sebenarnya orang tua dengan lingkungaannya.”Lalu bagaimana seharusnya lingkungan yang harus dikondisikan oleh orang tua?” dan “Bagaimana seharusnya yang dilakukan orang tua dalam memberikan pendidikan terhadap anaknya?” inilah yang selama ini mungkin jarang diperhatikan bahkan mungkin tidak pernah diperhatikan oleh sekolah, khususnya oleh guru.

Ada realitas yang mungkin perlu mendapatkan perhatian, ketika seorang siswa pulang dari sekolah/madrasah siswa tersebut tidak langsung pulang ke rumah, makan dan istirahat, melainkan harus menjemput adiknya yang masih balita ditempat penitipan anak yang biasa orang tuanya menitipkan, karena mereka (ibu dan ayahnya) bekerja sebagai buruh pabrik ataupun sebagai kuli bangunan. Waktu di rumah setelah pulang sekolah dipakai untuk “momong” dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang kebetulan selalu dibagikan kepada anaknya karena orang tua harus mengejar jam kerja, itupun setelah atau sambil “momong” sampai orang tuanya datang. Ketika orang tuanya datang, kesempatan untuk belajar atau sekedar mengerjakan tugas yang diberikan guru tak jua datang, sebab kondisi rumah kost berukuran 3×4 yang penuh dengan tempat tidur dan almari pakaian serta rak buku yang di atasnya terdapat tv/radio/tape itu sudah penuh dengan suara televisi/radio/tape recorder tersebut sebagai pelepas lelah kedua orang tuanya setelah sehari bekerja.”Lalu adilkah jika guru membebani siswa tersebut dengan PR?”,jika dalam satu hari siswa mendapatkan tugas pekerjaan rumah lebih dari satu bidang studi. Guru memang senantiasa memberikan nasihat agar siswa tersebut untuk bangun pagi agar bisa mengatasi persoalan tersebut. Pertanyaan yang harus dijawab; “Berapa jamkah anak harus istirahat tidur agar anak bisa bengikuti PBM esok hari?”,”Apakah lingkungannya bisa mendukung?”,dan yang terakhir “Bagaimana tindakan guru sebagai malaikat penolong untuk keberhasilan siswa tersebut?”.

Guru yang bijaksana akan bertindak sebagi malaikat penolong sejati ataukah malaikat yang menjerumuskan siswa (Eksekutor) dengan tetap memberi gelar “Bodoh” atau”Nakal”,bahkan yang lebih parah jika guru menutup mata terhadap ketuntasan belajar siswa dengan memberi nilai. Guru seharusnya bisa melakukan tindakan bijaksana dengan memberikan memberikan pendidikan tidak hanya pada siswa tapi juga pendidikan pada orang tua. Proses pendidikan bagi orang tua bisa dilakukan tergantung kebijaksanaan sekolah, sekolah bisa mengundang orang tua (Tidak hanya pada pembagian raport) dengan memberikan penyuluhan tentang trik-trik yang seharusnya dilakukan dalam mendidik anak di rumah, karena pendidikan tidak harus dalam bentuk ceramah,nasihat atau diskusi, tetapi contoh, kesempatan dan pengarahan serta perhatian terhadap kebutuhan anak. Proses lain yang dilakukan oleh guru adalah melaksanakan home visit sebagai bentuk perhatian guru mewakili skolah/madrasah sekaligus melaksanakan silahturrahmi dengan wali murid dan tak kalah pentingnya, guru harus bisa meminit waktu mengajar agar siswa benar-benar tuntas (learn to learn) dalam memenuhi pengalaman belajarnya.

Tindakan tindakan guru dalam melaksanan pendidikan yang tidak hanya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan tetapi tanggungjawab lahir batin untuk mengamalkan ilmu pengetahuhan baik langsung maupun tidak langsung dan memandang obyek dan subyek pendidikan dari segala sudut pandang secara bijaksana, baik siswa, diri sendiri dan orang tua yang sekaligus lingkungan adalah tindakan malaikat penolong generasi penerus bangsa.

Surabaya, 15 Januari 2008

Penulis

Hadi siswanto, S.Pd

Posted by: mtsbadrussalam | September 8, 2008

PEMANASAN GLOBAL

Mungkin sebagian besar dari diri kita sudah tahu mengenai pemanasan global dari informasi yang kita dapat dari media massa, akan tetapi biasanya dibahas dalam skala kebijakan yang sangat besar. Nah, bisakah kita sebagai orang biasa berfikir positif terhadap dampak Pemanasan Global ?? Pastinya sih bisa.

Sebenarnya penyebab utama Pemanasan Global ini adalah pembakaran bahan fosil, seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam, yang melepaskan Karbondioksida dan gas lainnya yang di kenal sebagai Gas Rumah Kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca, ia semakin menjadi isolator yang menekan lebih banyak panas matahari yang dipancarkan ke bumi. Sinar matahari yang sudah masuk ke bumi tidak bisa keluar lagi, karena gas-gas rumah kaca membentuk lapisan di atmosfer yang memantulkan sinar matahari kembali ke bumi.

Akibat yang timbul dari Pemanasan Global adalah gunung-gunung es akan mencair, daratan akan mengecil, serta meningkatnya fenomena cuaca yang ekstrim dan masih banyak lagi akibat yang ditimbulkan dari Pemanasan Global.

Ada beberapa cara untuk menghentikan Pemanasan Global yaitu,

1. Mematikan peralatan yang tidak dipakai.

2. Membeli lampu yang hemat energi.

3. Menanam seribu pohon untuk penghijauan

Pemanasan Global sudah menjadi masalah yang harus kita hadapi dan kita pecahkan bersama-sama. Jadi marilah kita mulai dengan gaya hidup yang ramah lingkungan dari diri kita sendiri, dan perkenalkanlah gaya hidup ini pada orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Dwi Handayanto,S.Pd Pengajar IPA

Posted by: mtsbadrussalam | August 29, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.